Kamis, 27 Maret 2014

PEREKONOMIAN INDONESIA DARI ORDE LAMA SAMPAI SEKARANG. "BANYAK PERUBAHAN TAPI TAK BANYAK MERUBAH KEADAAN"


Sistem perekonomian adalah sistem yang digunakan oleh suatu negara untuk mengalokasikan sumber daya yang dimilikinya baik kepada individu maupun organisasi di negara tersebut. Perbedaan mendasar antara sebuah sistem ekonomi dengan sistem ekonomi lainnya adalah bagaimana cara sistem itu mengatur faktor produksinya. Dalam beberapa sistem, seorang individu boleh memiliki semua faktor produksi. Sementara dalam sistem lainnya, semua faktor tersebut di pegang oleh pemerintah. Kebanyakan sistem ekonomi di dunia berada di antara dua sistem ekstrem tersebut.
Sistem perekonomian di Indonesia sudah ada atau dimulai sejak bangsa Indonesia masih berbentuk Kerajaan. Dimana pada masa itu masih dilakukan monopoli berdasar kekuasaan kerajaan. Namun sejalan mulainya penjelajahan oleh bangsa barat maka sistem di Indonesia sedikit banyak mulai terpengaruhi.
Perkembangan sistem ini dimulai dari jaman penjajahan Belanda dimana sistem imperialisme di terapkan sampai pada akhir masa penjajahan jepang dimana sistem perekonomian masih digerakkan oleh bangsa penjajah. Setelah merdeka, bangsa Indonesia sudah berulang kali mengubah sistem yang dipakai dalam mengatur perekonomiannya. Dari sistem Liberal, kemudian Komandao (komunisme) sampai memasuki orde baru. Pada orde baru ini terdapat perubahan yang signifikan (kemajuan) yang dialami oleh bangsa Indonesia dari segi kemakmuran rakyatnya, dimana pada masa ini menggunakan Program Repelita. Namun ketika tahun 1999 terjadi reformasi baik dari sistem politik maupun ekonomi.
Pada akhirnya bangsa Indonesia sampai dengan sekarang ini menggunakan sistem Perekonomian pancasila atau kerakyatan dimana tujuan dari perekonomian ini adalah tercapainya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

  • MASA ORDE LAMA
Pada awal kemerdekaan, pembangunan ekonomi Indonesia mengarah perubahan struktur ekonomi kolonial menjadi ekonomi nasional, yang bertujuan untuk memajukan industri kecil untuk memproduksi barang pengganti impor yang pada akhirnya diharapkan mengurangi tingkat ketergantungan terhadap luar negeri.
Sistem moneter tentang perbankan khususnya bank sentral masih berjalan seperti wajarnya. Hal ini dibuktikan dengan adanya hak ekslusif untuk mencetak uang dan memegang tanggung jawab perbankan untuk memelihara stabilitas nasional. Bank Indonesia mampu menjaga tingkat kebebasan dari pengambilan keputusan politik.
Sejak tahun 1955, pembangunan ekonomi mulai meramba ke proyek-proyek besar. Hal ini dikuatkan dengan keluarnya kebijakan Rencana Pembangunan Semesta Delapan Tahun (1961). Kebijakan ini berisi rencana pendirian proyek-proyek besar dan beberapa proyek kecil untuk mendukung proyek besar tersebut. Rencana ini mencakup sektor-sektor penting dan menggunakan perhitungan modern. Namun sayangnya Rencana Pembangunan Semesta Delapan Tahun ini tidak berjalan atau dapat dikatakan gagal karena beberapa sebab seperti adanya kekurangan devisa untuk menyuplai modal serta kurangnya tenaga ahli.
Perekonomian Indonesia pada masa ini mengalami penurunan atau memburuk. Terjadinya pengeluaran besar-besaran yang bukan ditujukan untuk pembangunan dan pertumnbuhan ekonomi melainkan berupa pengeluaran militer untuk biaya konfrontasi Irian Barat, Impor beras, proyek mercusuar, dan dana bebas (dana revolusi) untuk membalas jasa teman-teman dekat dari rezim yang berkuasa. Perekonomian juga diperparah dengan terjadinya hiperinflasi yang mencapai 650%. Selain itu Indonesia mulai dikucilkan dalam pergaulan internasional dan mulai dekat dengan negara-negara komunis.

  • MASA ORDE BARU
Suharto mengakhiri jabatannya sebagai presiden akibat fondasi ekonomi Indonesia ambruk diterjang krisis dan gelombang politik yang menghendaki perubahan.Kenyataan ini bertolak belakang dengan situasi pada awal kepemimpinan jenderal purnawirawan ini pada tahun 1968.
Di awal Orde Baru, Suharto berusaha keras membenahi ekonomi Indonesia yang terpuruk, dan berhasil untuk beberapa lama. "Kondisi ekonomi Indonesia ketika Pak Harto pertama memerintah adalah keadaan ekonomi dengan inflasi sangat tinggi, 650% setahun," kata Emil Salim, mantan menteri pada pemerintahan Suharto. Orang yang dulu dikenal sebagai salah seorang penasehat ekonomi presiden menambahkan langkah pertama yang diambil Suharto, yang bisa dikatakan berhasil, adalah mengendalikan inflasi dari 650% menjadi di bawah 15% dalam waktu hanya dua tahun.
Untuk menekan inflasi yang begitu tinggi, Suharto membuat kebijakan yang berbeda jauh dengan kebijakan Sukarno, pendahulunya. Ini dia lakukan dengan menertibkan anggaran, menertibkan sektor perbankan, mengembalikan ekonomi pasar, memperhatikan sektor ekonomi, dan merangkul negara-negara barat untuk menarik modal  

TERIKAT MODAL ASING
menurut Emil Salim, Suharto menerapkan cara militer dalam menangani masalah ekonomi yang dihadapi Indonesia, yaitu dengan mencanangkan sasaran yang tegas. Suharto menamai programnya 'Pembangunan Lima Tahun' atau PELITA, yang dengan melibatkan para teknokrat dari Universitas Indonesia, dia berhasil memperoleh pinjaman dari negara-negara Barat dan lembaga keuangan seperti IMF dan Bank Dunia.
Liberalisasi perdagangan dan investasi kemudian dibuka selebarnya. Inilah yang sejak awal dipertanyakan oleh Kwik Kian Gie, yang menilai kebijakan ekonomi Suharto membuat Indonesia terikat pada kekuatan modal asing. "Liberalisasi sebesar mungkin, sebebas-bebasnya, kalau ada intervensi boleh dikatakan didikte oleh IMF dan Bank Dunia, yang dibelakangnya adalah pemerintah Amerika Serikat dan dampaknya dirasakan sampai sekarang," kata mantan menteri koordinator perekonomian Indonesia antar tahun 1999-2000.
Namun menurut Emil Salim, untuk menggerakkan pembangunan, Suharto sejak tahun 1970-an juga menggenjot penambangan minyak dan pertambangan, sehingga pemasukan negara dari migas meningkat dari $0,6 miliar pada tahun 1973 menjadi $10,6 miliar pada tahun 1980.

KEMAJUAN SEKTOR MIGAS
Puncaknya adalah penghasilan dari migas yang memiliki nilai sama dengan 80% ekspor Indonesia. "Dengan kebijakan itu, Indonesia di bawah Orde Baru, bisa dihitung sebagai kasus sukses pembangunan ekonomi," kata pengamat ekonomi Djisman Simandjuntak. Keberhasilan Pak Harto membenahi bidang ekonomi sehingga Indonesia mampu berswasembada pangan pada tahun 1980-an, menurut Emil Salim, diawali dengan pembenahan di bidang politik.
Kebijakan perampingan partai dan penerapan azas tunggal ditempuh pemerintah Orde Baru, dilatari pengalaman masa Orde Lama ketika politik multi partai menyebabkan energi terkuras untuk bertikai. Lebih lanjut, Emil Salim menilai, pendekatan seperti yang dilakukan Suharto pada awal pemerintahannya lazim dipraktekkan oleh para pemimpin di kawasan Asia Timur dan Tenggara. "Ada pandangan bahwa demokrasi yang dikembangkan di negara berkembang itu membutuhkan semacam pengarahan atau intervensi untuk tidak segera bersifat liberal," kata Emil Salim. Gaya kepemimpinan tegas seperti yang dijalankan Suharto pada masa Orde Baru oleh Kwik Kian Gie diakui memang dibutuhkan untuk membenahi perekonomian Indonesia yang berantakan di akhir tahun 1960.
Namun, dengan menstabilkan politik demi pertumbuhan ekonomi, yang sempat dapat dipertahankan antara 6%-7% per tahun, semua kekuatan yang berseberangan dengan Orde Baru kemudian tidak diberi tempat.

Titik balik
Masa keemasan ekonomi Orde Baru, kata Emil salim, mengalami titik balik ketika memasuki tahun 1990-an, saat BJ Habibie dengan visi teknololgi masuk merambah bidang ekonomi. Tetapi, Kwik Kian Gie tidak sependapat dan dia menilai Habibie bukan faktor penting dalam titik balik ekonomi Orde Baru.
"Pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa Orde Baru terkesan begitu memukau," kata Kwik, namun menurutnya di sisi lain kesenjangan dan kemiskinan adalah akibat kebijakan ekonomi liberal. Krisis moneter sejak Juli 1997, yang disusul dengan tuntutan reformasi total, dia anggap sebagai konsekuensi logis dari kebijakan tersebut yang diperburuk oleh situasi politik.
Namun, pengamat ekonomi Djisman Simandjuntak mempunyai analisa berbeda tengan jatuhnya Suharto. "Krisis ekonomi untuk sebagian orang memang bisa ditelusuri ke praktek kebijakan, bukan desain kebijakan di atas kertasnya," kata Djisman. Pengamat ekonomi ini menilai pada prakteknya kebijakan pemerintahan Suharto sarat dengan berbagai penyelewengan seperti kolusi, korupsi dan nepotisme pada kroni Suharto. Pada saat yang bersamaan, rakyat menuntut suksesi politik. Dan krisis ekonomi yang melanda Indonesia menjadi pemicu krisis politik yang sudah dipendam oleh rakyat, tambah Djisman Simandjuntak

  • MASA REFORMASI
Saat ini kondisi ekonomi Indonesia memang tengah dalam tekanan, salah satunya dilihat dari kurs dolar AS yang saat ini nilainya mencapai Rp 11.700. Namun kondisi ini jauh berbeda dengan kondisi ekonomi saat krisis 1997/1998.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo menceritakan, dirinya tahu betul kondisi ekonomi Indonesia 1997/1998, karena saat itu sudah berkecimpung di dunia korporasi."Dulu utang kita banyak yang tak tercatat, bukan hanya utang swasta, namun juga utang pemerintahnya. Tapi setelah krisis (1997/1998), ada UU Keuangan negara, dan pemerintah mempunyai neraca. Jadi kita tahu berapa utang negara, utang daerah, swasta, dan bahkan BUMN. Kalau di 1997/1998 kita tidak tahu," tutur Agus Marto saat pertemuan dengan sejumlah pimpinan media di kantor pusat BI, Jalan Thamrin, Jakarta, Jumat malam (22/11/2013).
Agus mengatakan, pada saat krisis 1997/1998 banyak tindakan moral hazard yang terjadi di dunia perbankan Indonesia. Mulai dari pemilik bank, manajemen, hingga nasabah-nasabahnya melakukan tindakan moral hazard, atau tak sesuai aturan. Belum sampai di situ, pada saat krisis 1997/1998, Agus juga mengatakan ada tindakan-tindakan missmatch di Indonesia dalam sektor ekonomi. Contohnya, perusahaan swasta yang melakukan pinjaman dalam bentuk dolar, namun penghasilannya rupiah. Jadi bila dolar tiba-tiba menguat, kekuatan perusahaan untuk membayar utang lemah."Jadi saat ini utang-utang sudah tertata, laporan keuangan juga sudah jelas. Transaksi perbankan juga dijaga. Kalau apda 1997/1998, ada bank yang masuk transaksi derivatif berisiko, sekarang dijaga betul. Belum lagi pergerakan dolar saat krisis dulu itu melonjak tinggi dari Rp 2.300 menjadi Rp 15.000. Ini membuat ekonomi berhenti," papar Agus.
Meski begitu, Agus mengatakan, kondisi utang swasta Indonesia saat ini juga naik. Menurut data BI, utang swasta Indonesia jumlahnya naik dari US$ 73,6 miliar di 2009 menjadi US$ 136,6 miliar. Namun masih tetap terjaga, karena 76% utang swasta ini adalah berjangka panjang. Hingga Desember nanti, akan ada pembayaran utang swasta jatuh tempo US$ 8 miliar. Jumlah ini masih bisa terjaga, karena ada juga penarikan utang baru, sehingga tekanan terhadap rupiah masih terbatas
Pada kesempatan itu, Agus memperingatkan soal defisit transaksi berjalan akibat neraca perdagangan yang defisit tinggi. Defisit neraca perdagangan terjadi karena tingginya impor, khususnya migas. Di kuartal II-2013, neraca perdagangan migas Indonesia defisit US$ 5,8 miliar, naik dari kuartal II-2013 US$ 5,29 miliar. Tingginya impor ini membuat kebutuhan dolar meningkat, dan akhirnya nilai tukar rupiah tertekan.Agus mengatakan, perlu ada perbaikan dari sisi kebijakan pemerintah. Sehingga kondisi defisit neraca perdagangan ini tidak makin lebar dan makin menekan nilai tukar.
Tekanan pada nilai tukar juga tidak hanya akibat defisit perdagangan di dalam negeri, kebijakan bank sentral AS yaitu Federal Reserve (The Fed) yang berencana mengurangi kebijakan stimulusnya, membuat tekanan nilai tukar di sejumlah negara berkembang, termasuk Indonesia, karena pasokan dolar AS akan berkurang. Melihat kondisi ini, BI dari sisi moneter sudah melakukan berbagai kebijakan, salah satunya adalah menaikkan suku bunga acuan yaitu BI Rate menjadi 7,5%. Namun tidak lantas kebijakan ini menguatkan rupiah begitu saja, karena memerlukan waktu.
Selain itu, perlu juga perbaikan struktural sektor industri di Indonesia, sehingga barang-barang kebutuhan masyarakat tidak banyak dipenuhi dari impor. "Selama 4 tahun terakhir ini kondisi ekonomi dunia tidak normal. Karena The Fed mengeluarkan stimulus yang membanjiri seluruh dunia dengan dolar, maka 4 tahun terakhir ini dana melimpah masuk ke seluruh dunia, dan membawa kondisi yang tidak normal bagi dunia termasuk Indonesia. Lalu Ben Bernanke (Gubernur The Fed) di pertengahan tahu mau mengurangi stimulus. Ini mengubah lagi era sebelumnya, dari era capital inflow (arus dana masuk), menjadi era capital outflow (arus dana keluar)," jelas Agus.
Beragam kebijakan yang telah dilakukan BI dilakukan untuk menstabilisasi sisi moneter, dan ini akan mengorbankan pertumbuhan ekonomi. Menurut Agus, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan terkoreksi dari perkiraan awal 6,3% menjadi 5,5-5,7%.


http://finance.detik.com/read/2013/11/23/092206/2421358/5/gubernur-bi-sebut-kondisi-ekonomi-sekarang-beda-jauh-dibanding-1997-1998



Tidak ada komentar:

Posting Komentar